SOSIALISASI PENDIDIKAN KARAKTER BAGI GURU PENDIDIKAN KHUSUS DAN SEKOLAH INKLUSI KABUPATEN BANJAR

Oleh: Kusyuliqan – 9 April 2021

Suasana Sosialisasi Pendndikan Karakter di SLB N 2 Martapura, Kamis(08/04/21)

Sosialiasi Pendidikan Karakter dilaksanakan tanggal 8 April 2021 bertempat di SLB Negeri 2 Martapura. Kegiatan sosialiasi ini merupakan Program Pengelola Pendidikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan. Peserta yang hadir merupakan perwakilan SMA, SMK, dan SLB se-Kabupaten Banjar sejumlah 40 orang. Tujuan sosialisasi adalah memberikan pemahaman mengenai pentingnya penguatan pendidikan karakter/ gerakan memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, rasa, pikir, dan raga dengan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kegiatan sosialiasi ini dibuka oleh Ernas Hudayanto, S.Pd selaku Kepala Sekolah SLB Negeri 2 Martapura. Kegiatan ini menghadirkan 3 narasumber dengan materi yang beragam. Berikut adalah ringkasan dari pemaparan ke-3 narasumber.

ASPEK HUKUM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER 

oleh Prof. Dr. H. M. Hadin Muhjad, S.H., M.Hum. 

Merujuk pada pernyataan Presiden Jokowi bahwa kita perlu melakukan revolusi karakter (read: mental) kepada peserta didik yang ujung tombaknya adalah berasal dari guru. Penjabaran dari pernyataan Presiden tersebut merupakan dasar dari lahirnya Peraturan Presiden Nomer 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Karakter bangsa yang mengkhawatirkan menyebabkan Peraturan Presiden tersebut diterbitkan, dari budaya mengantri, disiplin lalu lintas sampai pada ketertiban di jalan raya yang pada akhirnya akan mengerak dan memunculkan perilaku melanggar lebih berat.

Urgensi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didasari pada manusia sebagai pondasi pembangunan, degradasi moral/akhlak sumber daya manusia/generasi penerus bangsa (karakter) yang akan berdampak pada cita cita bangsa di tahun 2025 (read:berakhinya masa tugas pak Jokowi) sampai pada usia emas Indonesia di tahun 2045. 

Ketika para generasi penerus bangsa berlomba-lomba untuk menjadi pintar, namun hal tersebut tidaklah cukup, karena karakter juga merupakan salah satu elemen penting yang akan mempengaruhi cita-cita bangsa. Harus saling sokong antara karakter sebagai pondasi untuk membangun bangsa. Minimnya pendidikan karakter akan berdampak pada masa depan peserta didik, semisal ketika murid yang dahulunya mengenyam pendidikan di tingkat sekolah akan menjadi pemimpin bangsa di kemudian hari (read: korupsi, culas, menghalalkan segala cara yang merugikan bangsa). 

PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

oleh Drs. H. Abdul Rivai, M.Ap.

Melihat proses untuk menuju sukses adalah orientasi dalam pendidikan karakter yang nantinya output akan (setidaknya) sesuai dengan yang ditanamkan dalam proses yang dilalui oleh anak karena persepsi, pemrosesan, pemahaman, olah pikir, rasa, raga, dan hati anak yang akan menentukan hasil akhirnya ketika sudah tiba saatnya dia menjadi pemimpin bangsa. 

Mewujudkan restorasi pendidikan dengan cara reformasi sekolah dan revitalisasi peran 

keluarga. Reformasi sekolah dapat dimulai dari memaksimalkan peran guru di sekolah karena mereka mengambil peran sebagai penginput karakter dan mentalitas kepada siswa-siswanya. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 49% peserta didik (potensi dan motivasi), 30% guru (kompetensi dan komitmen) akan berkontribusi mempengaruhi hasil belajar peserta didik, 7% sekolah, 7% teman, 7% orang tua, menurut (John Hettie, 2011). Hal tersebut sesuai dengan tiga pilar pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara yaitu Sekolah, Keluarga dan Lingkungan Masyarakat. Guru dalam setting sekolah memiliki andil besar dalam menyiapkan generasi emas yang berjiwa Pancasila sehingga mampu menghadapi dinamika dan tantangan era global sehingga menyokong Indonesia Maju. 

Pendidikan karakter pada peserta didik bukan hanya di sekolah. Peranan orang tua atau keluarga dalam pendidikan anak juga harus maksimal. Keluarga sebaiknya menjadi tempat untuk mendidik anak menjadi pribadi yang baik dan berakhlak. Hal yang penting untuk dilakukan dalam rangka revitalisasi peran keluarga yaitu orang tua harus berperan sebagai guru dan contoh teladan bagi anak-anaknya di rumah. Di samping itu, sinergitas guru dan keluarga diharapkan dapat menumbuhkembangkan karakter peserta didik.

DESAIN MODEL PENDIDIKAN KARAKTER BAGI SEKOLAH PENDIDIKAN KHUSUS DAN SEKOLAH INKLUSI

oleh Drs. Iriansyah, M.Si

Pendidikan karakter harus diimplementasikan di dalam kelas, dengan cara RPP yang guru buat harus memuat 5 karakter (religiusitas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas) dalam budaya sekolah (kegiatan kehidupan keseharian di satuan pendidikan) juga tidak luput menjadi sasaran pembiasaan dalam kehidupan keseharian bahkan ketika anak melakukan pembelajaran secara daring (dalam jaringan) diharapkan integrasi antara pembiasaan yang terjadi di sekolah juga dihadirkan di rumah.

Kegiatan penguatan pendidikan karakter yang dilaksanakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan sangat positif dan memberi manfaat. Harapan ke depan semoga lebih banyak diadakan kegiatan serupa yang dapat menunjang kinerja guru untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *