Membuka Pintu Komunikasi: Program BAADAT untuk Anak Autis yang Lebih Mandiri

Oleh: Nurbayti Rahmah

“Triadic impairment” dalam konteks Gangguan Spektrum Autisme (GSA) mengacu pada tiga area utama yang mengalami gangguan pada individu dengan kondisi ini, yaitu gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi, dan perilaku berulang atau terbatas.

Komunikasi adalah fondasi utama dalam kehidupan manusia, termasuk bagi anak-anak dengan autisme yang sering menghadapi tantangan dalam berinteraksi dan mengekspresikan diri. Menjawab tantangan ini, SLBN 2 Martapura menghadirkan sebuah inovasi dalam dunia pendidikan luar biasa: program terapi BAADAT (Bina Anak Autis dengan Terapi).

Ruang Terapi BAADAT SLB Negeri 2 Martapura (04/06/2025)

BAADAT: Terobosan Terapi Holistik dari SLBN 2 Martapura

Program BAADAT (Bina Anak Autis dengan Terapi) merupakan inisiatif dari Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ibu Dwi Fakhrina, S.Pd., dan Bapak Taufan Arya Pratama, S.Pd., yang bekerja sama dengan 11 orang guru kelas Autis. Program ini lahir dari semangat kolaboratif dan kepedulian terhadap kebutuhan spesifik anak-anak dalam spektrum autisme. Inisiasi tersebut mendapat dukungan penuh dari Plt. Kepala Sekolah, Ibu Marsyidah, S.Pd., yang memberikan “lampu hijau” bagi pengembangan program terapi terpadu ini di lingkungan SLBN 2 Martapura.

BAADAT dirancang sebagai terapi holistik yang tak hanya menargetkan aspek komunikasi, tetapi juga perilaku, kemandirian, dan penguatan keterampilan adaptif anak.

Tujuan utama BAADAT:

– Membina kemampuan komunikasi anak, baik verbal maupun nonverbal

– Melatih kemandirian dalam aktivitas sehari-hari

– Mengembangkan perilaku dan keterampilan adaptif secara optimal

Program Terapi BAADAT dilaksanakan selama empat hari dalam seminggu, setelah jam pembelajaran berakhir. Setiap siswa autis mengikuti dua sesi terapi per minggu, dengan durasi masing-masing sesi selama 30 menit. SLBN 2 Martapura tidak hanya menyampaikan pembelajaran akademik, tetapi juga menyusun sesi terapi yang sistematis, personal, dan responsif terhadap kebutuhan masing-masing anak.

Pelaksanaan Program Terapi BAADAT (04/06/2025)

Suara Penggerak: Guru sebagai Agen Perubahan

Dalam wawancara bersama Bapak Normansyah, S.Pd., guru sekaligus koordinator program BAADAT, beliau menyampaikan:

“Kami merancang BAADAT karena melihat banyak anak autis yang sebenarnya punya potensi besar, tapi belum punya jalur komunikasi yang tepat. Di kelas ini, kami tidak hanya mengajarkan pelajaran, tapi juga cara mereka berinteraksi, mengekspresikan keinginan, dan melakukan aktivitas mandiri.”

“Setiap anak itu unik, jadi terapi yang kami susun pun sangat personal. Ada yang responsif dengan pendekatan visual, ada pula yang butuh penguatan perilaku secara konsisten. Intinya, kami ingin mereka bisa tumbuh sesuai irama mereka sendiri, tapi tetap punya arah.”

Kolaborasi tim terapis, Bu Wiwid dan Pa Ikhwan (04/06/2025)
Berdoa setelah terapi, Bu Wiwid selaku salah satu terapis bersama anak (04/06/2025)

Pendekatan Terapi dalam Kelas BAADAT

1. Terapi Sensorimotorik

Ditujukan untuk membantu anak memproses dan merespons rangsangan sensorik dengan lebih adaptif.

Fokus pada:

– Regulasi sensorik (terhadap suara, sentuhan, gerakan, dll.)

– Meningkatkan koordinasi motorik kasar dan halus

– Meningkatkan konsentrasi dan kesadaran tubuh

– Kegiatan stimulasi proprioseptif dan vestibular

2. Terapi Perilaku (Behavioral Therapy)

Difokuskan pada penguatan perilaku positif, seperti:

– Duduk dengan tenang

– Mengikuti instruksi

– Meningkatkan interaksi sosial

3. Stimulasi Bahasa dan Wicara

Anak-anak dilatih untuk:

– Mengekspresikan keinginan secara verbal maupun non-verbal

– Memahami perintah sederhana

– Mengenal objek menggunakan pendekatan visual dan verbal

4. Latihan Kemandirian Sehari-hari

Ditekankan pada kemampuan menjalani rutinitas dasar secara mandiri, seperti:

– Makan sendiri

– Memakai dan melepas pakaian

– Mencuci tangan dan menjaga kebersihan diri

5. Terapi Individual

Setiap anak mendapatkan sesi terapi sesuai kebutuhan individu

6. Pelibatan Orang Tua

– Orang tua dilibatkan aktif sebagai bagian dari tim terapi

– Mendapat pelatihan untuk mendukung kelanjutan terapi di rumah

Bu Yuliyani, S.Pd. sebagai salah satu Tim Terapis menjelaskan bahwa pelaksanaan program terapi BAADAT dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan kesiapan masing-masing anak. Program terapi perdana, dimulai pada bulan Mei 2025, yang dilaksanakan oleh tim adalah Terapi Sensorimotorik, sebagai dasar untuk membangun regulasi diri, meningkatkan kesiapan belajar, dan memfasilitasi perkembangan fungsi lainnya secara optimal.

Media stimulasi vertibular (04/06/2025)
Media stimulasi motorik halus (04/06/2025)

Manfaat Program BAADAT

– Kemajuan Komunikasi yang Terarah

Anak-anak lebih mampu menyampaikan keinginan melalui kata, gestur, atau alat bantu visual.

– Peningkatan Kemampuan Sosial dan Emosional

Anak lebih responsif, mulai memahami emosi dasar, dan dapat berinteraksi dengan teman sebaya.

– Kemandirian yang Bertumbuh

Anak semakin mampu melakukan rutinitas harian secara mandiri, tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain.

– Orang Tua yang Lebih Siap dan Terlibat

Dengan pelatihan yang tepat, orang tua merasa lebih percaya diri dalam mendampingi perkembangan anak di rumah.

Testimoni Orang Tua: Bukti Nyata Perubahan

Salah satu orang tua siswa [Nama Dirahasiakan], berbagi pengalaman menyaksikan perubahan besar pada anaknya setelah mengikuti program BAADAT:

“Terapi yang dijalani anak saya mulai memberikan dampak positif terhadap konsentrasinya. Sebelumnya anak saya sangat mudah teralihkan dan sulit fokus, tapi sekarang kami melihat kemajuan nyata. Ia lebih tenang, lebih mudah mengikuti instruksi, dan bisa menyelesaikan tugas-tugas sederhana dengan lebih mandiri.”

“Saya juga dilibatkan langsung oleh guru-gurunya. Jadi apa yang diajarkan di sekolah bisa kami lanjutkan di rumah. Saya merasa tidak sendiri lagi, karena sekolah betul-betul membantu dan memahami kami sebagai orang tua”.

Harapan Bersama untuk Anak yang Lebih Mandiri

BAADAT telah membuka harapan baru bagi banyak keluarga. Komunikasi yang sebelumnya tertutup kini mulai terbuka, memberi ruang bagi anak-anak autis untuk berkembang secara menyeluruh. SLBN 2 Martapura terus berkomitmen untuk menjadikan BAADAT sebagai program yang mendidik sekaligus memberdayakan. Melalui kerja sama erat antara sekolah, keluarga, dan anak, pintu komunikasi akan terbuka lebar—menuju masa depan yang lebih mandiri, percaya diri, dan bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *